Di pelosok negeri ini, masih banyak santri yang menghafal Al-Qur’an dalam keadaan perut kosong. Mereka bertahan dengan makan seadanya bahkan hanya nasi dan garam demi bisa menyelesaikan hafalan 30 Juz. 😢
Ada yang tidur beralaskan tikar tipis, tanpa selimut, di ruang kelas yang disulap jadi asrama. Tapi bibir mereka tak pernah berhenti melantunkan ayat suci.
Tak sedikit santri yang harus belajar dengan mushaf usang dan sobek, karena tak mampu membeli Al-Qur’an baru. Bahkan, ada yang menghafal dari fotokopian mushaf yang dibagikan bergilir.
Banyak guru ngaji yang mengajar tanpa bayaran, bertahan karena keyakinan bahwa Al-Qur’an harus terus diajarkan — meski dapur mereka sendiri kadang tak berasap.